BENGKALIS (MITRARIAU.COM)— Kabupaten Bengkalis di pesisir timur Pulau Sumatera merupakan salah satu wilayah yang kaya akan khazanah budaya Melayu. Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat dan pemerintah daerah terus berupaya melakukan revitalisasi terhadap adat dan tradisi Melayu. Upaya ini bukan hanya soal melestarikan budaya, tapi juga membangun identitas dan kebanggaan kolektif masyarakat di tengah tantangan zaman.
Sejak lama, Bengkalis dikenal sebagai salah satu pusat peradaban Melayu di Riau. Bahasa, pakaian, musik tradisional, dan upacara adat seperti tepuk tepung tawar, kenduri kampung, hingga zikir berzanji masih dilaksanakan, meski tidak semasif dahulu. Dalam beberapa tahun terakhir, gerakan revitalisasi adat Melayu kembali menguat, didorong oleh kesadaran bahwa adat bukan sekadar warisan, melainkan jati diri yang harus dipertahankan dan dikembangkan sesuai konteks masa kini.
Dinas Kebudayaan dan instansi terkait telah menggelar berbagai program, seperti Festival Budaya Melayu Bengkalis, pelatihan adat untuk generasi muda, dan kerja sama dengan lembaga adat serta akademisi. Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Bengkalis pun aktif dalam memfasilitasi proses penguatan nilai-nilai budaya melalui pendidikan informal dan acara komunitas.
Namun, revitalisasi ini tidaklah tanpa tantangan. Generasi muda cenderung lebih akrab dengan budaya global ketimbang budaya lokal. Pengaruh media sosial, minimnya muatan lokal dalam kurikulum sekolah, serta kurangnya dokumentasi adat secara digital menjadi hambatan nyata. Tidak sedikit pula masyarakat yang menganggap adat sudah usang dan tidak relevan dengan kehidupan modern.
Budayawan Bengkalis, H. Tengku Ibrahim, mengatakan bahwa adat Melayu harus mampu bertransformasi tanpa kehilangan substansinya. “Anak muda sekarang perlu dikenalkan adat bukan dengan cara yang kaku, tapi kreatif. Musik Melayu bisa dikemas secara kontemporer, pantun bisa dijadikan konten digital yang menarik. Itu kuncinya,” ujarnya dalam sebuah diskusi budaya.
Sementara itu, peran keluarga dan sekolah juga krusial. Pendidikan berbasis kearifan lokal perlu diperkuat. Tidak cukup hanya seremonial, tetapi harus ada pembiasaan dan internalisasi nilai-nilai seperti sopan santun, gotong royong, dan penghargaan terhadap leluhur. Guru dan orang tua harus menjadi teladan dalam menanamkan nilai-nilai Melayu dalam kehidupan sehari-hari.
Di sisi lain, dukungan regulasi dan kebijakan daerah sangat dibutuhkan. Perda tentang pelestarian budaya lokal harus diimplementasikan secara nyata, termasuk dengan alokasi anggaran yang memadai. Kegiatan kebudayaan jangan hanya dilihat sebagai acara tahunan, tetapi sebagai bagian dari strategi pembangunan manusia yang berkelanjutan.
Revitalisasi adat Melayu di Bengkalis adalah proses panjang. Ia bukan hanya tentang mempertahankan tradisi, tetapi juga meneguhkan identitas, membangun karakter bangsa, dan memperkaya kepribadian lokal di tengah era global. Maka, sinergi antara masyarakat, tokoh adat, pemerintah, dan dunia pendidikan menjadi kunci agar budaya Melayu tidak sekadar dikenang, tapi terus hidup dan berkembang di tengah tantangan zaman.
penulis :
1. Nur Afiqatus Solihah
2. Sarmi armada
3. Deana Dila
CO AUTOR : DR NURMALINDA.S.Kar.M.Pd ( [email protected].)









